Oleh
Iik Nurul Fatimah, S.Pd.,M.Si
(Dosen Biologi FMIPA UNPAM Serang).
Reportika.co.id || Bekasi – Sebagian masyarakat di Indonesia masih seringkali aktif melakukan kegiatan domestic dan publik secara tradisional. Hal ini juga dilandasi kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun. Pengetahuan lokal yang dimiliki menjadi salah satu dasar dalam pelaksanaannya.
Pelaksanaannya pun relatif sangat sederhana, tanpa menggunakan alat-alat yang canggih dan jauh dari kata modern. Menjaga warisan leluhur menjadi salah satu alasan utama mereka masih melaksanakannya.
Salah satu kegiatan yang sering dilakukan ialah Bertani.
Masih banyak Masyarakat menggunakan kebiasaan yang diturunkan dari leluhurnya dalam Bertani. Baik dalam pengelolaannya sampai pada saat panen. Hal ini dilakukan di suku baduy dalam Bertani dan masih menggunakan cara-cara tradisional. Masyarakat baduy masih menggunakan system ngahuma (Berladang) dalam menghasilkan beras, bahkan hasil panen disimpan di dalam leuit (tempat penyimpanan padi).
Hal ini juga berkesinambungan dalam ketahanan pangan masyarakat baduy termasuk ke dalam kategori yang cukup Tangguh, hal ini dikarenakan mampu menyimpan dan mengawetkan padi untuk jangka Panjang dan berkelanjutan.
Selain ngahuma, ada pengelolaan padi yang juga diturunkan sebagai warisan pengetahuan dalam Bertani yakni mina padi.
Mina padi menjadi salah satu metode yang telah dilakukan pada masa lampau. Pada masa lampau sawah yang memiliki ketersediaan air seringkali dijadikan tempat menanam ikan, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan mina padi. Di tahun 1950-1960, hampir di setiap petakan sawah dengan cukup air, selain ditanami padi juga digunakan sebagai tempat pemeliharaan ikan (Handojo 1989).
Usaha mina padi memuncak pada tahun 1982 (Halwart 1998).
Seiring berjalannya waktu, mina padi mulai bergeser dengan adanya revolusi hijau dimana sektor pertanian diberikan banyak metode terbaru guna mendapatkan hasil yang lebih baik. Masyarakat mulai bergeser dari semula mengelola menggunakan pengelolaan mina padi, beralih menjadi pengelolaan padi modern. Masyarakat berfokus pada penggunaan bahan-bahan kimiawi yang bisa merangsang pertumbuhan lebih cepat.
Hal ini sangat disayangkan mengetahui bahwa mina padi memiliki manfaat dalam pembangunan ekonomi di bidang pertanian. Potensi budidaya ikan-padi dapat memerangi kemiskinan dan kekurangan gizi telah diakui secara global (Saikia 2008). Sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa mina padi mengurangi biaya produksi, menambah pendapatan (Ahmed et al. 2011; Nurhayati 2016) bahkan penelitian lain menunjukan tiga kali lipat keuntungan yang didapatkan petani (Abuasir et al. 2004).
Berdasarkan penelitian Pengelolaan mina padi dan non mina padi memiliki perbedaan yang signifikan. Secara ekonomi, petani tidak hanya panen padi tetapi juga panen ikan yang bisa dijual Kembali atau dikonsumsi di keluarga. Secara ekologi, ikan yang berada di petakan sawah membantu menyuburkan sawah dan memberikan pupuk alami kepada padi tanpa penggunaan pupuk kimiawi yang tidak hanya berbahaya untuk konsumsi manusia namun juga bisa menyebabkan pencemaran pada tanah.
Tanah sawah akan menjadi lebih asam dan sulit untuk dijadikan media tanam pada tahun-tahun selanjutnya.
Pengelolaan mina padi yang masih berjalan hingga kini salah satunya berada di desa Lampegan Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung Jawa barat. Masyarakat masih menggunakan sistem mina padi untuk pertanian mereka. Hal ini juga disebabkan karena desa Lampegan sendiri terkenal sebagai kampung lauk (ikan). Banyak pembenih ikan berasal dari desa tersebut. Bahkan sebelum Namanya berganti menjadi kecamatan Ibun, ikan mas majalaya pun berasal dari hasil peranakan yang dilakukan salah satu petani ikan di Ibun yang kala itu Namanya masih Kecamatan Majalaya.
Maka, munculah dan berkembang hingga hari ini ikan mas majalaya.
Pengelolaan mina padi sendiri relatif sangat sederhana. Hanya memerlukan petakan sawah yang dibuat arit bagian sisi dan tengahnya untuk tempat ikan-ikan juga ikut ditanam. Jenis ikan pun bisa beragam, banyak petani memilih ikan mas sebagai varietas ikan yang dipilih. Hal ini dilatarbelakangi karena kesukaan, dan kelimpahan ikan itu sendiri. Beberapa petani juga seringkali menggunakan ikan hias untuk ditanam disawah.
Layaknya pengelolaan yang lain, mina padi juga memiliki tantangan tersendiri. Baik dalam menanggulangi hama maupun perawatannya. Petani harus paham betul kapan waktu disurutkan airnya, dan kapan harus dinaikan Kembali.
Hal ini untuk membuat ikan tetap berenang dan tidak terbawa arus dan menghilang. Hama yang seringkali mengganggu misalnya belut listrik yang bisa membunuh ikan-ikan di sawah, burung, dan juga tikus sawah yang masih menjadi masalah dalam pengelolaan ini.
Selain hama, kendala air yang seringkali mengalami kekeringan di bulan-bulan tertentu juga membuat pengelolaan mina padi ini terasa begitu berat. Maka dari itu, dengan beragam manfaat yang ditawarkan tak jarang Masyarakat lebih memilih kepada sesuatu yang nilai ekonomi nya lebih bisa di control dibandingkan dengan mina padi yang bisa mengalami gangguan yang ganda, baik dari padi maupun dari ikan.
Hanya saja, melihat kondisi pertanian yang kian memfokuskan kepada pestisida dan pupuk kimia yang memiliki dampak buruk jangka Panjang. Maka mina padi bisa menjadi salah satu metode Bertani yang bisa dilestarikan, mengingat tawaran nilai ekonomi dan ekologi yang ditawarkan seimbang.
Hal ini tentunya sangat jarang terjadi, dua aspek yang sangat penting memiliki keterkaitan. Karena pada beberapa bagian kehidupan, nilai ekonomi yang tinggi akan merugikan nilai ekologi pun begitu sebaliknya. Mina padi juga bisa menjadi solusi bagi ketahanan pangan dan menambah nutrisi Masyarakat lewat makan ikan yang dihasilkan dari sawah. Meskipun berasal dari sebuah tradisi, mina padi begitu banyak memiliki manfaat baik dalam ekologi maupun manfaat ekonomi.
Sule